The Inspiring Quote
"Apabila engkau merasa letih karena berbuat kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan terus kekal.
Sekiranya engkau bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa yang dilakukan akan terus kekal."
(Umar bin Al-Khathab)
Sekiranya engkau bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa yang dilakukan akan terus kekal."
(Umar bin Al-Khathab)
Sunday, March 16, 2008
Monday, December 10, 2007
No Title
Janganlah sekali kali mengukur kebaikan dirimu dengan nilai nominal,
selain tidak menunjukkan keikhlasan, maka rezekimu hanya akan sebatas nilai nominal yang telah kau ukur,
atau mungkin kau tidak akan mendapatkan apa-apa
Sebaliknya, jika kau ikhlas dalam menolong orang lain,
dan dirimu tidak pernah bisa menilai kebaikan yang telah kau berikan.
Yakinlah, sekecil apapun suatu kebaikan, jika didasari dengan keikhlasan yang tulus.
Maka suatu hari kelak Allah akan membalasnya dengan nikmat yang barokah tiada tara.
Kuncinya adalah tulus, ikhlas, ikhtiar, do'a dan kesabaran.
Hikmah selalu mendewasakan diri dibelakang.
Dan akan menyembul kuntum hikmahnya nan indah, yang dapat kita petik untuk menjadi suatu "PELAJARAN HIDUP". Readmore »»
selain tidak menunjukkan keikhlasan, maka rezekimu hanya akan sebatas nilai nominal yang telah kau ukur,
atau mungkin kau tidak akan mendapatkan apa-apa
Sebaliknya, jika kau ikhlas dalam menolong orang lain,
dan dirimu tidak pernah bisa menilai kebaikan yang telah kau berikan.
Yakinlah, sekecil apapun suatu kebaikan, jika didasari dengan keikhlasan yang tulus.
Maka suatu hari kelak Allah akan membalasnya dengan nikmat yang barokah tiada tara.
Kuncinya adalah tulus, ikhlas, ikhtiar, do'a dan kesabaran.
Hikmah selalu mendewasakan diri dibelakang.
Dan akan menyembul kuntum hikmahnya nan indah, yang dapat kita petik untuk menjadi suatu "PELAJARAN HIDUP". Readmore »»
Monday, December 3, 2007
Curhat
This month is December. Dua hari lagi Zahwa genap berusia 3 tahun. Dan tiga belas hari lagi my husband berusia 33 tahun. Unik juga jika melihat angka 3 yang tersusun diantara ulang tahun mereka ditahun 2007 ini. Bahkan usiaku juga menggunakan angka yang sama, 30 tahun.
Hmm, mendekati hari ulang tahun mereka, begitu banyak yang kurenungkan. Betapa tahun ini adalah tahun yang terberat yang menyajikan beragam cobaan yang silih berganti. Namun tentu hikmah pasti akan tersembul dari balik persembunyiannya. Hikmah yang terbaik yang dapat memberikan aku pelajaran yang dapat aku petik sebagai bekal dalam melangkah dalam babak kehidupanku selanjutnya.
Allah memang memiliki caranya tersendiri dalam membelalakkan mataku. Memaksaku untuk lebih menelaah berbagai macam karakter manusia disekelilingku. Dimana begitu banyak sosok-sosok yang bernafas dengan topeng kemunafikan diwajah mereka. Mengerlingkan senyuman dikala butuh, lalu memalingkan muka dan menjauh dikala kita sudah dianggap tak berguna.
Sungguh ini pelajaran berharga yang membuat aku bersyukur. Karena dengan cobaan ini betapa aku tahu siapa yang dapat kupandang dengan ketakjuban ketika simpati dan pertolongan mengaliri suatu jalinan persahabatan sejati. Dan aku juga dapat mendepak jauh-jauh rasa percaya pada orang-orang yang hanya membentangkan azaz manfaat padaku. Sehingga aku mencabut nilai persahabatan yang pernah tertanam, karena mereka adalah orang yang tak berhak untuk menjadi seorang sahabat. Bagiku mereka hanyalah seonggok daging yang bernafas yang hanya menjadi benalu dalam kehidupan. Entah mereka masuk dalam golongan manusia, atau golongan jelangkung yang datang tak diundang dan pulang tak diantar, atau alien yang bermuka seperti ular beludak yang datang tampak muka dan pulang tak tampak punggung.
Jika mengedepankan sakit hati, mungkin aku adalah orang yang paling merasa terzalimi. Betapa tidak, apakah keikhlasan bentangan bantuan yang kami berikan tak ada nilainya sama sekali. jangankan untuk membalas walau secuil, terima kasih pun tak ada dilontarkan. Cerita tentang ini suatu saat akan kuuraikan detail demi detail, agar cerita menyedihkan ini dapat menjadi cambukku untuk melangkah. Agar kelak anak-anakku dapat membaca dan menarik benang merah dalam kisah tragis ini.
Kembali kepada hari ulang tahun. Tanggal 15 Desember adalah my husband's birthday. Betapa aku bersyukur kepada Tuhan karena Dia telah memberikan pasangan yang terbaik, yang telah menyiramiku dengan begitu banyak cinta. Dibalik emosinya yang sering meledak-ledak, tak pernah mengurangi perhatian dan kasih sayangnya. Semua yang kurasakan selalu sama dari pertama bertemu pada tanggal 11 Desember 1999 yang lalu, sampai sekarang. Bahkan hari demi hari cinta itu menjadi lebih kuat, kokoh dan semakin indah. Walau begitu banyak kekurangan yang kumiliki, namun aku selalu diterima dengan apa adanya dalam pelukan hangat yang penuh makna cinta. Mungkin penerimaan itu yang mengosongkan ingatanku akan kekurangannya. Bahkan jika aku diminta mengisi kuesioner yang memilah kelebihan dan kekurangannya. Yang pasti kekurangan hanya akan menjadi luang kosong yang tak mampu aku isi. Karena kekurangan itu hanya muncul dikala emosi lagi tersulut sebentar. Setelah padam, semuanya sirna tanpa bentuk. Yah, itu lah cinta. Saling memberi dan menerima...
Tidak terasa sudah delapan tahun kebersamaan ini terbina. Tapi semua seperti baru berlangsung kemarin. Tidak ada yang berubah, masih ada topik yang didiskusikan, masih erat perhatian yang dikalungkan, masih ada rindu yang disimpan dari menit ke menit tatkala tak bertemu meski jangka waktu dalam hitungan jam, masih ada cengkrama-cengkrama yang mengumandangkan canda tawa sepasang insan, dan masih banyak cerita yang membumbui perjalanan kisah hendra dan endang, penuh hal-hal menarik yang tidak akan pernah terlupakan selama helaan nafas masih terdengar dalam degupan jantung. Semua benar-benar seperti terjadi baru kemarin, tapi dikala tersadar, ternyata kami telah memiliki tiga bocah nakal yang menggemaskan dalam buaian kami. Tapi meski telah dikelilingi ketiga anak-anak yang manis ini, mengapa kami masih kekanak-kanakan, yang masih saling merindukan jika tak saling bersama, yang masih mencari jika tak saling melihat satu sama lain, yang masih merasa ada yang kurang jika belum saling melengkapi. Cinta itu memang aneh, namun menyajikan keindahan tersendiri yang mewarnai tingkah polah kehidupan dengan caranya.
Dear my honey, I really loved you yesterday, I really love you today, and I believe I will really love you tomorrow, forever and after...
Happy birthday for both of you my special people in my life. Because of you, life is beautiful... Readmore »»
Hmm, mendekati hari ulang tahun mereka, begitu banyak yang kurenungkan. Betapa tahun ini adalah tahun yang terberat yang menyajikan beragam cobaan yang silih berganti. Namun tentu hikmah pasti akan tersembul dari balik persembunyiannya. Hikmah yang terbaik yang dapat memberikan aku pelajaran yang dapat aku petik sebagai bekal dalam melangkah dalam babak kehidupanku selanjutnya.
Allah memang memiliki caranya tersendiri dalam membelalakkan mataku. Memaksaku untuk lebih menelaah berbagai macam karakter manusia disekelilingku. Dimana begitu banyak sosok-sosok yang bernafas dengan topeng kemunafikan diwajah mereka. Mengerlingkan senyuman dikala butuh, lalu memalingkan muka dan menjauh dikala kita sudah dianggap tak berguna.
Sungguh ini pelajaran berharga yang membuat aku bersyukur. Karena dengan cobaan ini betapa aku tahu siapa yang dapat kupandang dengan ketakjuban ketika simpati dan pertolongan mengaliri suatu jalinan persahabatan sejati. Dan aku juga dapat mendepak jauh-jauh rasa percaya pada orang-orang yang hanya membentangkan azaz manfaat padaku. Sehingga aku mencabut nilai persahabatan yang pernah tertanam, karena mereka adalah orang yang tak berhak untuk menjadi seorang sahabat. Bagiku mereka hanyalah seonggok daging yang bernafas yang hanya menjadi benalu dalam kehidupan. Entah mereka masuk dalam golongan manusia, atau golongan jelangkung yang datang tak diundang dan pulang tak diantar, atau alien yang bermuka seperti ular beludak yang datang tampak muka dan pulang tak tampak punggung.
Jika mengedepankan sakit hati, mungkin aku adalah orang yang paling merasa terzalimi. Betapa tidak, apakah keikhlasan bentangan bantuan yang kami berikan tak ada nilainya sama sekali. jangankan untuk membalas walau secuil, terima kasih pun tak ada dilontarkan. Cerita tentang ini suatu saat akan kuuraikan detail demi detail, agar cerita menyedihkan ini dapat menjadi cambukku untuk melangkah. Agar kelak anak-anakku dapat membaca dan menarik benang merah dalam kisah tragis ini.
Kembali kepada hari ulang tahun. Tanggal 15 Desember adalah my husband's birthday. Betapa aku bersyukur kepada Tuhan karena Dia telah memberikan pasangan yang terbaik, yang telah menyiramiku dengan begitu banyak cinta. Dibalik emosinya yang sering meledak-ledak, tak pernah mengurangi perhatian dan kasih sayangnya. Semua yang kurasakan selalu sama dari pertama bertemu pada tanggal 11 Desember 1999 yang lalu, sampai sekarang. Bahkan hari demi hari cinta itu menjadi lebih kuat, kokoh dan semakin indah. Walau begitu banyak kekurangan yang kumiliki, namun aku selalu diterima dengan apa adanya dalam pelukan hangat yang penuh makna cinta. Mungkin penerimaan itu yang mengosongkan ingatanku akan kekurangannya. Bahkan jika aku diminta mengisi kuesioner yang memilah kelebihan dan kekurangannya. Yang pasti kekurangan hanya akan menjadi luang kosong yang tak mampu aku isi. Karena kekurangan itu hanya muncul dikala emosi lagi tersulut sebentar. Setelah padam, semuanya sirna tanpa bentuk. Yah, itu lah cinta. Saling memberi dan menerima...
Tidak terasa sudah delapan tahun kebersamaan ini terbina. Tapi semua seperti baru berlangsung kemarin. Tidak ada yang berubah, masih ada topik yang didiskusikan, masih erat perhatian yang dikalungkan, masih ada rindu yang disimpan dari menit ke menit tatkala tak bertemu meski jangka waktu dalam hitungan jam, masih ada cengkrama-cengkrama yang mengumandangkan canda tawa sepasang insan, dan masih banyak cerita yang membumbui perjalanan kisah hendra dan endang, penuh hal-hal menarik yang tidak akan pernah terlupakan selama helaan nafas masih terdengar dalam degupan jantung. Semua benar-benar seperti terjadi baru kemarin, tapi dikala tersadar, ternyata kami telah memiliki tiga bocah nakal yang menggemaskan dalam buaian kami. Tapi meski telah dikelilingi ketiga anak-anak yang manis ini, mengapa kami masih kekanak-kanakan, yang masih saling merindukan jika tak saling bersama, yang masih mencari jika tak saling melihat satu sama lain, yang masih merasa ada yang kurang jika belum saling melengkapi. Cinta itu memang aneh, namun menyajikan keindahan tersendiri yang mewarnai tingkah polah kehidupan dengan caranya.
Dear my honey, I really loved you yesterday, I really love you today, and I believe I will really love you tomorrow, forever and after...
Happy birthday for both of you my special people in my life. Because of you, life is beautiful... Readmore »»
Tuesday, November 20, 2007
Para Sahabat yang Berhati Kerdil
Tangisan bukan untuk dibagi
Duka derita dipeluk sendiri
Kesenangan dinikmati bersama silih berganti
Luka perih merintih
Tiada sahabat yang perduli
Hidup ini kejam
Tapi realita harus tetap direngkuh
Tak mengeluh
Tak menangis
Walau jalinan kawan kian menjauh
Hidup ini adalah arus yang mengalir
Aku sedang terjebak dalam palung deras
Memuntirku
Menggilingku
Menghempaskan tubuhku hingga tak berdaya
Memaksaku berputus asa dalam perjuangan
Tapi hidup memang perjuangan
Meski uluran tangan dari sahabat tak jua ditawarkan
Walau matanya merekam derita yang terlantunkan
Namun sungguh pandangannya tak berbelas kasihan
Seakan dia menikmati keterpurukan ini
Aku menangis dalam penyesalan
Aku merasa kebaikan tersaji dahulu
Dalam ikatan persahabatan sebelumnya
Tiada memberikan keindahan
Selain rasa sakit
Ditinggalkan
Dicampakkan
Dihina
Dicibir
Dihempaskan
Dipandang seraya menghujam kesinisan
Palung ini kian memutarku
Hingga aku hampir tak bernafas
Aku terseok
Aku terkapar
Aku teraniaya
Tapi hidup ini adalah perjuangan
Perjuangan ini adalah pelajaran
Pelajaran agar jangan pernah mengharap
Uluran tangan akan tertawar
Dikala hidup ini sedang diambang keterpurukan
Sungguh perjuangan ini adalah sesuatu yang berharga
Yang mengajari hati kita untuk melihat dan memilah
Menentukan sahabat yang tak perduli
Tatkala keberuntungan sejenak terbang menjauh
Menerangkan mataku
Ternyata sahabat sejati bukanlah sahabat yang kemarin
Ternyata sahabat sejati adalah anak-anakku sendiri
Ternyata sahabat sejati adalah pasanganku sendiri
Ternyata sahabat sejati adalah keluargaku sendiri
Sementara sahabat yang terlanjur teranggap sahabat
Hanya sosok-sosok orang yang kerdil
Yang melenggang melangkah menjauh
Ketika merasa tak ada keuntungan yang akan didapat
Dari seseorang yang sedang oleng dan terpuruk
Sepertiku
Sekarang aku bisa tertawa dalam kepedihan
Hidup yang pahit ini sungguh menyajikan misteri
Disaat keajaiban Tuhan memberiku kesempatan kembali
Aku memulai dari awal
Mengukur langkah penuh kehati-hatian
Berharap agar pelajaran yang kemarin
Dapat menuntunku untuk tidak menjadi buta
Dalam memilih sahabat sejati
Karena sahabat sejati adalah sahabat yang berbagi
Sahabat yang ikut menikmati kebahagiaan bersama
Yang mengulurkan tangan dikala susah
Yang ikut menangis dikala duka derita melanda
Yang tidak akan pernah pergi dikala kita jatuh terjerembab
Tekadku tumbuh dalam perjuangan ini
Aku harus mampu berdiri di atas kaki ini sendiri
Menapak keras dalam senyuman bangga
Dan aku akan selalu berterima kasih
Kepada sahabat-sahabatku dahulu yang berhati kerdil
Karena mereka aku mau bangkit
Karena mereka aku memiliki semangat
Semangat untuk menjadi lebih baik
Agar kelak aku bisa menyaksikan
Setinggi apa derajat para sahabatku
Sahabat-sahabat yang berhati kerdil
Yang mengangkatku dari palung cobaan
Perlahan-lahan...
Karena kezaliman yang mereka bentangkan
Dan aku berterima kasih untuk kezaliman itu
Terima kasih "Sahabat" yang berhati kerdil! Readmore »»
Duka derita dipeluk sendiri
Kesenangan dinikmati bersama silih berganti
Luka perih merintih
Tiada sahabat yang perduli
Hidup ini kejam
Tapi realita harus tetap direngkuh
Tak mengeluh
Tak menangis
Walau jalinan kawan kian menjauh
Hidup ini adalah arus yang mengalir
Aku sedang terjebak dalam palung deras
Memuntirku
Menggilingku
Menghempaskan tubuhku hingga tak berdaya
Memaksaku berputus asa dalam perjuangan
Tapi hidup memang perjuangan
Meski uluran tangan dari sahabat tak jua ditawarkan
Walau matanya merekam derita yang terlantunkan
Namun sungguh pandangannya tak berbelas kasihan
Seakan dia menikmati keterpurukan ini
Aku menangis dalam penyesalan
Aku merasa kebaikan tersaji dahulu
Dalam ikatan persahabatan sebelumnya
Tiada memberikan keindahan
Selain rasa sakit
Ditinggalkan
Dicampakkan
Dihina
Dicibir
Dihempaskan
Dipandang seraya menghujam kesinisan
Palung ini kian memutarku
Hingga aku hampir tak bernafas
Aku terseok
Aku terkapar
Aku teraniaya
Tapi hidup ini adalah perjuangan
Perjuangan ini adalah pelajaran
Pelajaran agar jangan pernah mengharap
Uluran tangan akan tertawar
Dikala hidup ini sedang diambang keterpurukan
Sungguh perjuangan ini adalah sesuatu yang berharga
Yang mengajari hati kita untuk melihat dan memilah
Menentukan sahabat yang tak perduli
Tatkala keberuntungan sejenak terbang menjauh
Menerangkan mataku
Ternyata sahabat sejati bukanlah sahabat yang kemarin
Ternyata sahabat sejati adalah anak-anakku sendiri
Ternyata sahabat sejati adalah pasanganku sendiri
Ternyata sahabat sejati adalah keluargaku sendiri
Sementara sahabat yang terlanjur teranggap sahabat
Hanya sosok-sosok orang yang kerdil
Yang melenggang melangkah menjauh
Ketika merasa tak ada keuntungan yang akan didapat
Dari seseorang yang sedang oleng dan terpuruk
Sepertiku
Sekarang aku bisa tertawa dalam kepedihan
Hidup yang pahit ini sungguh menyajikan misteri
Disaat keajaiban Tuhan memberiku kesempatan kembali
Aku memulai dari awal
Mengukur langkah penuh kehati-hatian
Berharap agar pelajaran yang kemarin
Dapat menuntunku untuk tidak menjadi buta
Dalam memilih sahabat sejati
Karena sahabat sejati adalah sahabat yang berbagi
Sahabat yang ikut menikmati kebahagiaan bersama
Yang mengulurkan tangan dikala susah
Yang ikut menangis dikala duka derita melanda
Yang tidak akan pernah pergi dikala kita jatuh terjerembab
Tekadku tumbuh dalam perjuangan ini
Aku harus mampu berdiri di atas kaki ini sendiri
Menapak keras dalam senyuman bangga
Dan aku akan selalu berterima kasih
Kepada sahabat-sahabatku dahulu yang berhati kerdil
Karena mereka aku mau bangkit
Karena mereka aku memiliki semangat
Semangat untuk menjadi lebih baik
Agar kelak aku bisa menyaksikan
Setinggi apa derajat para sahabatku
Sahabat-sahabat yang berhati kerdil
Yang mengangkatku dari palung cobaan
Perlahan-lahan...
Karena kezaliman yang mereka bentangkan
Dan aku berterima kasih untuk kezaliman itu
Terima kasih "Sahabat" yang berhati kerdil! Readmore »»
Subscribe to:
Posts (Atom)
Popular Posts
-
Bidadariku satu2nya ini terlahir di bulan Desember 2004 pada tanggal 5. Proses kelahirannya begitu mudah di sebuah klinik di Palembang, wila...
-
Insomnia malam ini tetap membawa otakku untuk otrak atrik photoshop. Sayang, kompie-ku hanya photoshop 7.0...tapi yang penting kreatifnya, k...
-
Oh God...gara-gara browsing makanan Palembang via image di google, pandanganku tertuju pada sosok makanan paling favorit kesukaanku yang tia...
-
18 Maret 2013, Dini hari.... Sebelumnya kepingin banget membahas tentang hasil pembicaraanku dengan suami tentang falsafah ...
-
Beberapa hari yang lalu aku menyempatkan waktu menghadiri acara Maulud Nabi di masjid perumahan. Otomatis Conversation Class malem Mingg...
-
Disaat benih bayi yang sangat mungil ditiupkan ruh ke dalam raganya, maka Allah telah menyiapkan sebuah buku nasib yang berisikan rang...
-
Lagi ga ada kerjaan tau2 aku dah nongkrong disalah satu kompie yang selalu digunain siswa. Berhubung nih kompie lagi ga ada penghuninya, mak...
-
Ceritanya Sabtu kemaren temanya weekend, nih. Tiba-tiba muncul inspirasi untuk masakin keluarga kecilku masakan ekstra cepat seperti biasan...
-
Dalam pertemanan, orang saling berbeda pendapat adalah hal yang lazim. Berbeda pendapat dan saling menghormati cara pikir tanpa perlu men...