Ceritanya Sabtu kemaren temanya
weekend, nih. Tiba-tiba muncul inspirasi untuk masakin keluarga kecilku masakan
ekstra cepat seperti biasanya, tapi dengan menu yang tidak biasanya dibikin.
“Yuuuur….!”, jam tujuh lewat
seperti biasa mamang sayur lewat meneriakkan yel-yel khasnya buat menghipnotis
para ibu-ibu mendekat. Tak ayal lagi, aku yang masih berpakaian santai ala
rumahan langsung ganti jubah kebesaran yang selalu tergantung dibalik pintu.
Tugasnya pun dalam membalut badanku hanya hitungan puluhan menit, alias buat
beli sayur atau ke warung doang. Makanya tuh baju berpredikat ‘Anti Cuci’… :D
“Trap…trap…trap…!”, dengan
semangat kudatangi mamang sayur buat searching
apa kira-kira yang ingin kubikin hari ini. Setengah ling lung, akhirnya aku
pilih cumi untuk uji coba hari ini. Pengen bikin pindang cumi seperti buatan
mamaku, tapi rasanya malu harus investigasi mama lagi tiap mau masak cumi.
Maklum, masak cumi itu terjadi ratusan tahun yang lalu… Twewew!
“Aha…!”, sebuah ide terlintas
dibenakku, “Mang, tunggu disini! Jangan pergi dulu!”, pintaku dengan nada
mengancam sambil berlari masuk ke dalam rumah dengan tergopoh-gopoh. Untung masih
ada netbook yang menyala sejak dipake
anakku tadi malem. “tik…tik…tik…!”, kuketikkan kata ‘Pindang Cumi’ di sebuah search engine untuk mencari petunjuk
resep praktis memasak cumi yang ingin kubeli. Setelah kudapat yang kuinginkan,
kubaca sekilas tapi tak begitu menyimak dengan seksama. Clue-nya yang penting, bumbunya tidak terlalu njlimet.

Walhasil, cumi setengah kilo kubeli
dengan bumbu dapur seadanya plus tempe yang siap jadi pengganti menu apabila si
Pindang Cumi mendapatkan hasil akhir yang gagal. Narasi Pindang Cumi yang tadi
tersaji dilayar netbook-ku tidak
terperdulikan lagi. Pokoknya, lagi semangat aja ceritanya.
Sekarang kita masuk ke panggung
kedua, alias dapur asal-asalanku. Berhubung dua anakku dah pada sekolah, de’
Acil sedang tertidur pulas dan ayahnya bersiap akan pergi ritual belajar
mengajar di suatu kampus, maka aku pun siap untuk berjuang mati-matian dalam
drama pembantaian cumi disini. Sorry, kalo cerita gak di-upgrade dengan makna yang ditinggikan setinggi-tingginya, tidak
akan seru… :D
Setelah tulang cumi kucabut
dengan penuh kasih sayang, maka dengan penuh keikhlasan pula tiap cumi kupotong
menjadi tiga bagian. Kucuci bersih dan kusiapkan dalam suatu wadah. Tiba-tiba
mataku melihat sebuah jeruk nipis yang menggodaku untuk membelahnya. Adegan pertama
nalarku mengubah narasi resep yang tadi sempat kubaca, hanya karena pemikiranku
ingat pada acara-acara yang masak yang sering ditayangkan ditelevisi, bahwa
jeruk nipis akan menghilangkan aroma amis pada hewan-hewan air yang akan
dimasak. Maka, terjadilah pelencengan jalan cerita. Potongan cumi yang terkapar
itu kusirami dengan perasan jeruk nipis. “Semoga nanti tidak ada rasa yang berubah,”
ujarku dengan H2C alias harap-harap cemas.
Sepengingatanku…hm aku suka
dengan kosa kata ini, meski pastinya gak termasuk dalam hukum eyd…aku harus
ulek bawang merah dan bawang putih. Tapiiiiii….aku lupa beli bawang putih, gimana
dong? Ah, what ever-lah, tak ada bawang
putih, bawang merah pun bisa mandiri dalam memberi cita rasa. Yuk mari! Akhirnya,
teruleklah si bawang merah hingga membuatku menitikkan air mata haru, lalu
kucemplungkan seujung jari kunyit agar sang bawang tidak kesepian.
Serentak kulirik bumbu dapur yang
tersisa, aku ingat bahwa bumbu ulek harus ditumis daun jeruk dan lengkuas yang
dimemarkan. Ah, aku ingat petuah mama kalo masakan itu akan enak jika dimasukan
unsur jahe didalamnya. “Hm, mengapa tidak…”, seringaiku penuh arti. Maka bumbu
ulekan pun semakin membias dari resep yang sebenarnya.
Sekarang adegan terakhir dalam
acara cumi-cumian ini. Wajan kupanaskan dengan menuangkan sedikit minyak sayur
untuk menumis. “Trap!”, bumbu ulekpun menjadi pioneer nyemplung didalam minyak panas. Setelah dioseng-oseng agak
lama dan aroma wanginya mulai terasa, daun jeruk dan lengkuas pun menyusul
dengan gembira. Hingga akhirnya pelaku utama ikut terjun dalam berkorban, si
cumi-cumi jeruk. Dan sebagai pelengkapnya, semangkok air, garam dan penyedap
rasa ikut mewarnai warna-warni hidup.

Tapi rasanya kurang seru kalo ga ada sambel kebesaran hari ini. Yuk, kita petik cabe, iris tomat, dan siapkan terasi untuk digoreng sebentar sembari menunggu cuminya mateng. “Gujlek…gujlek…gujlek…!” dalam hitungan menit sambel penambah nafsu makan pun tersedia dengan sukses. Dibarengi Pindang Cumi ala Ms. Ntha…hohohoho. Tempenya tidak usah di-follow up dulu. Kalo testimoni sang pindang memuaskan, si Tempe bisa berguna untuk nanti sore.
Untuk tester pertama, Acil yang tadinya sudah bangun dan nonton TV kupanggil. Tanpa ba bi bu, sepotong cumi yang sudah kudinginkan kujejalkan kemulutnya agar dia tak melihat. Karena yang kutahu dia paling anti makan cumi kalo kita beli menu itu dari warung makan. Wuah…matanya mengerjap keenakan. Seperti biasa dia selalu bilang untuk tiap masakan yang kubikin, “Mama, besok masak itu lagi, yah. Atil suka”. Alhamdulillah, itu pertanda bagus untuk selera makan siang ini.
Dan ternyata benar saudara-saudara…setelah anak-anakku sudah berkumpul semua, semuanya kasih jempol untuk Pindang Cumi-ku. Bahkan kaka Ota yang selalu bilang anti makan cumi pun tidak berkutik untuk minta lagi dan minta lagi. Apalagi kaka Awa, tak terhitung lagi berapa kali dia mencuri kesempatan ke dapur hanya untuk mencicipi kuah cumi yang terpajang didalam panci diatas kompor. Walhasil, hari ini satu kilo beras yang kumasak langsung amblas tak bersisa.
Cumaaaaa, suamiku yang biasanya
doyan cumi merasa aneh dengan masakanku kali ini. Padahal biasanya dia selalu
tanpa komentar tiap makan masakanku. Ternyata, dia tahu ada bumbu yang
seharusnya tidak masuk dalam resep tercantum ditayangan edisi cumiku kali ini. Hahahaha….ga
pa pa lah. Kasih komentar, tapi makannya nambah juga, toh… :D
Finally, begitulah akhir cerita dongeng Cumi ala Ms. Ntha kali ini. Jika suatu pekerjaan dilaksanakan secara
ikhlas dan gak neko-neko, insya Allah hasil akhirnya pasti memuaskan. Hm,
kira-kira weekend ini aku kerasukan jin masak lagi, kah….?We'll see... ;)
lbh mantaffff lg bila airnyo da' usah byk2 kalo kt bahasa EYD ku air sedikit agak cemek2. (lagian kshan cumi 1/2 kg kalo airnyo byk) .....:D
ReplyDelete