UnforgettableMemories

Mybelovedfamily Slideshow: 'Ntha’s trip from Jakarta, Jawa, Indonesia to 2 cities Surabaya and Banten was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.

Asmaul Husna

The Inspiring Quote

"Apabila engkau merasa letih karena berbuat kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan terus kekal.
Sekiranya engkau bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa yang dilakukan akan terus kekal."
(Umar bin Al-Khathab)

Thursday, March 20, 2008

SEUNTAI DO'A BUAT MAMA dan PAPA

Suatu hari aku dan suami sedang menonton siaran berita yang menayangkan tentang Adam Air yang sering memberikan pelayanan yang tidak memuaskan para pelanggan, ditambah sering terjadi kecelakaan terhadap maskapai penerbangan tersebut.
Tiba-tiba aku teringat pengalaman suamiku beberapa tahun yang lalu harus buru-buru terbang ke Surabaya karena ibunya baru saja dipanggil oleh sang Maha Pencipta. Tapi karena tidak ada lagi pilihan lain, maka suamiku membeli tiket AdamAir pada saat itu. Tapi ternyata penerbangan pesawat ditunda beberapa jam, sementara ibunya harus segera dikebumikan.
Dan alhasil, suamiku sampai ke Surabaya dengan rasa duka yang mendalam karena tidak dapat mengantar kepergian ibunda tercinta ketika harus dimakamkan ke liang lahat.
Sebenarnya ini adalah cerita lama yang mungkin tidak terlalu menyedihkan lagi, karena pastinya sang ibunda telah tenang diatas sana bersama ayahanda tercinta yang telah mendahului beliau sebelumnya.
Tapi mengapa tiba-tiba aku menangis dan merasa begitu pilu. Bahkan ketika menulis ini pun aku masih berurai air mata. Mengapa?
Aku hanya membayangkan ketika kita dilahirkan dengan bertarung nyawa dan darah yang bercucuran, namun seorang ibu dengan rela menghadapinya. Kita dapat menatap dunia dan mendapat bimbingan dan pelajaran hidup dari sejak menghirup nafas pertama kali hingga kita menjadi dewasa. Meski kadang ada pertentangan yang tercipta antara anak dan ibu, tapi ikatan itu tidak bisa terputus dalam batin kita. Karena kasih sayang telah tertumpah sedari kita bernaung selama sembilan bulan didalam perut ibunda. Bertahun-tahun mendekapkan kasih sayang kepada anaknya secara berlimpah. Hanya saja kadang kita yang terlalu egois dan merasa diri kita telah dewasa, sehingga kadang kita menciptakan jarak yang membentang pada kasih sayang yang pernah diikatkan secara erat. Kita pernah berontak dan berusaha mengikrarkan bahwa kita bisa berdiri sendiri tanpa harus diawasi.
Dan ketika aku menilik pengalaman suamiku. Dia tidak bisa mengantarkan sang ibunda menuju tempat peristirahatan terakhir. Sementara jika mengenang masa lalu, kita akan selalu mengingat kasih sayang yang dia taburkan dengan tulus, senyum dan tawanya yang menjadi suara pertama ditelinga kita tatkala lahir, pengorbanan yang selalu beliau persembahkan demi melihat kebahagiaan anaknya, tanpa meminta balasan. Hanya suatu harapan dan do’a yang dibentangkan agar kita sukses dan selalu bergelimang suka dan kebahagiaan.
Lalu ketika Sang Pencipta telah menjemput beliau, seharusnya kita dapat mengantarkan beliau secara langsung, melihat wujudnya untuk yang terakhir kalinya, setelah sekian lama kita mendapatkan segala rasa kasih, perhatian, dan do’a yang selalu dipanjatkannya untuk kita, untuk anak-anaknya, buah hatinya.
Karena ketika pintu kubur telah tertutup, untuk selamanya kita tidak pernah lagi melihat sosoknya secara nyata, kecuali dalam bayangan kita, dalam angan kita. Sungguh akan sangat menyedihkan ketika kita terjebak dalam situasi demikian. Apalagi telah sekian lama kita hidup merantau dan merentangkan jarak kasih sayang itu kian terbentang jauh. Walau sebenarnya cinta kasih ibu dan anak tidak pernah terputus oleh jarak apa pun, tapi itu sebenarnya adalah sisi egois kita yang menciptakan bahwa jarak ini tidak bermasalah.
Sebagai seorang ibu, tentu akan sangat menyedihkan jika kita harus terpotong oleh jeda jarak dalam jangka waktu yang lama, apalagi waktu yang sama sekali tidak bisa terhitung kapan keutuhan keluarga semasa kecil itu kembali. Seorang ibu yang pernah menuai kisah-kisah manis dikala anaknya kecil, menorehkan cerita-cerita yang tertulis dalam kenangan tentang kelucuan, kenakalan, kejahilan, kesedihan sepanjang anak bertopang pada sang ibunda. Dan dikala bekal bimbingan telah cukup menguatkan anak untuk mandiri, tanpa disadari anak-anak pergi meninggalkan sang ibu, untuk menjalani hidup sebagai individu yang mampu berdiri sendiri. Walaupun sebenarnya tujuannya hanyalah tidak ingin menyusahkan sang ibunda, tidak ingin memberikan beban jika sedang susah, dan merasa bahwa ketika seorang anak telah dewasa, orang tua tidak memiliki kewajiban lagi untuk menafkahi dan mendapatkan kesusahan dari kehidupan anak. Tapi jika kutelaah lebih dalam lagi, sungguh menyakitkan jika anak yang begitu kita sayangi harus pergi menjauh, meskipun sebenarnya alasan yang tertuang adalah benar. Karena anak itu adalah aliran darah kita yang mengalir di seluruh tubuh. Degup jantungnya adalah nyawa dari seorang ibu. Jika jantung itu terhenti, maka ibu pun akan menjadi tidak bernyawa.
Maka seandainya aku bisa memohon, kumohon pada Tuhan untuk selalu mendekatkan aku pada anak-anakku. Izinkanlah aku melihat mereka tumbuh dan bahagia secara langsung, kuharap tidak akan ada jarak yang terlalu jauh, yang akan mematrikan perasaan merana seorang ibu yang merindukan anak-anaknya. Dalam untaian do’aku, kuharap jika telah tiba waktu untuk pergi menghadap-Mu, izinkan matiku diiringi oleh permata-permata hatiku. Karena sebenarnya aku hidup hanya untuk mereka. Memberikan mereka jalan untuk masuk ke dunia, membesarkan dan membekali mereka dengan ilmu dan materi. Karena tanpa mereka, kebahagiaan yang sebenarnya itu tidak akan pernah ada. Kumohon…
Hari ini aku pun tercenung. Karena jarak pun telah memisahkan kasih sayang antara aku dan orang tuaku disana. Aku pun termasuk seorang anak yang begitu egois menjauhi orang yang telah membuatku ada dan yang telah membuatku berilmu dan mampu bertahan dalam himpitan-himpitan hidup yang penuh cobaan. Walau sebenarnya keegoisanku memiliki tujuan yang sebenarnya tidak lah jelek. Keegoisan dimana aku tidak ingin membagi kesusahan dan perjuangan yang melelahkan dalam menyusuri padang-padang pasir kehidupan untuk mencari pundi-pundi kesuksesan. Karena kuyakin, bahwa kesusahan dan perjuangan anak adalah luka perih yang mendalam bagi orang tuanya. Dan orang tua selalu ingin menjadi seseorang bisa yang diandalkan ketika seorang anak sedang berjuang keras membangun masa depan. Orang tua akan selalu untuk menjadi yang terbaik bagi anaknya. Karena memang nyawa orang tua hanya lah diciptakan untuk menjadi penjaga untuk anak-anaknya.
Ya Allah, seandainya aku memiliki peluang untuk memberikan yang terbaik bagi orang tuaku. Berikanlah aku kekuatan untuk membalas segala jasa mereka padaku, walau sebenarnya aku tahu bahwa mereka tidak mengharapkan balasan, selain suatu kerinduan untuk menuai cinta kasih orang tua dan anak selayaknya ketika dahulu mereka menimang, membesarkan dan merajut hari-hari bersama. Walau kutahu bahwa sebenarnya bukan materi yang mereka pinta, hanya sederet kata KEHADIRAN anak yang menggelayuti hidup mereka. Meminta ketika terbangun dari tidur akan ada suara-suara riuh keluarganya yang pernah hadir, dan berharap bahwa keramaian yang dulu pernah tercipta tidak akan pernah hilang, bahkan akan bertambah oleh teriakan-teriakan tambahan dari cucu-cucu tercinta.
Namun dengan uraian air mata ini, sungguh aku tidak memiliki kekuatan untuk menghadirkan suasana tersebut, karena suatu pepatah yang sedikit menorehkan luka adalah kenyataan dimana disebutkan bahwa ANAK-ANAKMU BUKANLAH ANAK-ANAKMU. Mereka adalah dititipkan padamu yang memiliki hari esok, dan tidak akan bisa kau paksa untuk menjalani hari-hari kemarin. Dia tercipta darimu, tapi hanya dititipkan padamu.
Maka seandainya engkau izinkah ya Allah, berikanlah aku jalan untuk memberikan kebahagiaan bagi mereka dalam bentuk yang lain. Berikan aku jalan agar aku dapat menghadirkan merera ke rumahmu, MEKKAH. Kumohon ya Allah, karena hamba sudah terlalu egois meninggalkan mereka menjalani takdir yang memang takdir hamba. Seandainya Engkau restui ya Allah, kuharap ikhtiar yang sedang kami jalani saat ini adalah jalan keluar untuk memberikan yang terbaik bagi ORANG TUA kami. Karena kami tidak dapat memberikan hadiah kehadiran kami sepanjang nafas mereka. Ku mohon kabulkan ikhtiar ini ya Allah…
Berikan lah juga mereka kesehatan dan selalu dipanjangkan umurnya. Jauhkanlah mereka dari segala cobaan-cobaan yang berat. Karena kami berjuang bukan hanya demi anak-anak kami, tapi juga demi mereka. Agar ketika tiba saatnya mereka menutup mata, mereka akan pergi dengan tersenyum. Bahwa ternyata mereka telah berhasil membekali anak-anaknya dengan ilmu, dan menjadikannya sebagai seseorang yang tangguh dalam hidup. Karena tak ada yang lebih membahagiakan lagi selain ketika kita dapat melihat anak kita berbahagia.
Dalam sujudku ini ya Allah, kumohon berikanlah jalan yang kau ridhoi dan Engkau pasti tahu keinginan yang paling utama kami adalah memberikan kebahagiaan bagi ORANG TUA yang kami kasihi, yang kami cintai. Karena bagi kami, tanpa Beliau, kami bukan apa-apa. Tanpa Beliau, kami tidak akan pernah menjadi SESEORANG. Hanyalah Engkau lah tempat kami meminta, dan tempat kami memohon petunjuk. Karena hanya ENGKAU yang menjadikan orang tua dan kami ada. Tanpa-Mu, hidup ini tidak akan pernah nyata. Amin ya Robbal Alamin…

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Pages