UnforgettableMemories

Mybelovedfamily Slideshow: 'Ntha’s trip from Jakarta, Jawa, Indonesia to 2 cities Surabaya and Banten was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.

Asmaul Husna

The Inspiring Quote

"Apabila engkau merasa letih karena berbuat kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan terus kekal.
Sekiranya engkau bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa yang dilakukan akan terus kekal."
(Umar bin Al-Khathab)

Tuesday, May 17, 2011

'Istana Pasir di Sisi Pantai' ~CopyPaste from my note in fb


17 Mei 2011
Terus terang hari ini aku sedang tak ada inspirasi untuk menulis. Tapi aku jadi ingat bahwa aku pernah menulis sesuatu tentang biduk rumah tangga kepada seorang temanku tentang 'Istana Pasir di Sisi Pantai'. Dan tema ini pun sekali lagi kuuraikan kepada temanku yang lain yang juga curhat mengenai biduk rumah tangganya. Mungkin inbox tersebut akan aku rombak lagi nantinya. Cerita awalnya saja dulu yang kupublish disini. Ini awal mula inspirasi tema tersebut tertuang sbg pengingatku jika suatu saat aku terjebak hati :


Pagi ini dapet inbox dari sahabat yang akan melangsungkan pernikahan besok. Sebenernya kabar ini sudah kuketahui sebelumnya, tapi kadang tergelitik diotakku protes mengapa dia tidak pernah memberitahuku sebelumnya, sehingga aku bisa tahu hal ini dari orang lain. Tapi mengapa harus protes, pasti dia memiliki jawaban tersendiri untuk hal ini. Setidaknya, aku turut bahagia dengan berita ini dan berharap yang terbaik akan selalu menerpa pada proses hidup selanjutnya.

Ah...berita ini menginspirasi lingkaran pikiranku untuk bermain kata-kata. Aku hanya ingin menyelipkan sederet pesan padanya mengenai kehidupan yang dinamakan bahtera rumah tangga. Mungkin sedikit berguna atau ini adalah sebuah ungkapan yang melambangkan seorang sahabat yang perduli dengan sahabatnya. Ini adalah pemikiranku mengenai sebuah keluarga. Tapi aku tidak mengatakan bahwa apa yang kukatakan benar, karena setiap individu pasti memiliki pemikiran sendiri mengenai hal itu. Aku hanya mendeskripsikan apa yang menurut pandanganku saja, jika pun itu tidak termaktub dalam kriteria orang lain, no problem at all deh...;)

Bagiku, ketika kita memulai suatu biduk rumah tangga, laksana dua pasang manusia yang berikrar untuk membangun suatu istana cinta bersama dipinggiran ladang pasir disisi pantai. Mereka bekerja sama menentukan seperti apa istana yang mereka bangun. Mereka menyatukan perbedaan pandangan cara pembangunan istana tersebut untuk dipadukan menjadi istana yang indah. Pada awalnya mereka tidak mencari cara pikir yang sama dalam membuatnya. Tapi mereka olah perbedaan cara pandang dengan mendahulukan komunikasi yang selalu renyah. Dan dengan tumpukan pengertian yang telah mereka persiapkan jauh-jauh hari sebelum mereka bersama, bisa jadi tiba-tiba persamaan itu muncul, sehingga bisa menempatkan mereka pada chemistry yang elok. Satu kunci yang tentunya membuat mereka berhasil, adalah keikhlasan mereka dalam menjalankan semuanya.

Membangun istana pasir di tepi pantai suatu hal yang tidak gampang. Tapi jika dijalankan dengan ikhlas dan tidak kenal menyerah dalam merekonstruksi istana itu terus menerus apabila tergerus deburan ombak yang menerjang, maka kebahagiaan di hati akan selalu menghampiri, tidak perduli harus dengan menangis, atau pun tertawa.

Namun harus difikirkan bersama istana macam apa yang akan dibangun. Apakah istana yang megah dengan bentuk menjulang tinggi yang akan mengundang decak kagum orang lain. Atau istana sederhana yang minim dengan polesan keindahan dari segi bentuknya, tapi kadang didalamnya melengking tawa riang yang kadang sering tak terdengar dalam istana megah. Coba kita bayangkan lagi, ketika kita membangun istana megah nan indah dan secara tiba-tiba terpaan ombak memporakporandakan beberapa sisi bangunan, atau bahkan menggilasnya menjadi hamparan pasir kembali. Pastinya akan membutuhkan waktu lama untuk membangunnya kembali menjadi semula. Atau bahkan menimbulkan keluhan-keluhan dihati menyesali mengapa ada ombak itu dalam kehidupan kita. Terkadang pikiran menjadi terjebak untuk menyalahkan segala hal, yang pada kenyataannya itu adalah takdir. Dan keterjebakan itu membuat kita menyalahkan Tuhan yang menciptakan ombak cobaan itu menerpa kita.

Sekarang kita fikirkan sebaliknya. Ketika kita membangun suatu istana pasir yang sederhana. Ketika dia harus dilindas oleh riak-riak ombak. Tak perlu menghabiskan waktu terlalu lama untuk berpindah dan membangun istana pasir yang sama. Kita akan sangat mengenal secara detil bentuk bangunan mungil itu. Ketika bentuknya kembali seperti semula, tidak ada rasa kecewa atau kehilangan akan cita rasa bentuknya. Karena memang tidak pernah hilang. Jika pun pernah hilang, bangunan itu dapat berdiri kembali. Pastinya akan sedikit atau tidak akan sama sekali terselip penyalahan nasib ketika harus menghadapi situasi terjangan ombak yang akan selalu hadir.

Dan dalam hal ini, aku lebih memilih untuk membangun istana yang sedehana. Karena kesederhanaan itu selalu menimbulkan keindahan yang jauh lebih megah dari istana yang megah sekali pun. Itu menurutku, lho...^_^

Sepertinya ada peluit meneriakkan 'times up', karena komputer akan terpakai sepenuhnya sore ini. Maka inspirasiku untuk menulis di delete dulu sampai disini. Aku hanya ingin mengirimkan do'a untuk sahabatku yang esok akan melangsungkan pernikahan. Semoga dia menemukan pangerannya yang benar-benar jodoh hidupnya. Selalu saling menyediakan rasa pengertian ekstra dalam menghadapi perbedaan dan selalu bekerja sama untuk menjaga keutuhan dan keindahan yang dinamakan keluarga.

Ketika membaca inboxmu, tiba-tiba pelupuk mataku sedikit tergenang. Hanya sebait kata namun mengharukan. 'say, bsk aku nikah...mhn doa nya ya...? smg mdpt kbahagiaan sprt yg dirimu rasakan.....'.

Aku tak pernah ragu untuk mengatakan bahwa aku bahagia. Dan aku lebih bahagia lagi karena kau pun akan berbahagia sebagaimana yang aku inginkan sebagai seorang sahabat. Seperti percakapan kita beberapa waktu lalu, bahwa sahabat tidak harus berwujud kebersamaan yang nyata untuk saling berbagi dan mendo'akan. Nikmati kebahagiaanmu sebagaimana aku menikmati kebahagiaanku, meski harus ada lelehan air mata untuk menghiasi hidup ini. Keikhlasan kita dalam mengemban cobaan dan karunianya adalah kunci dari pintu kebahagiaan itu sendiri. Jadikan besok wedding yang terindah dihatimu...dan yang terakhir dihidupmu...Insya Allah...^_^

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Pages